zondag 4 september 2011

NARSIS, BALIHO, LEBARAN, BALIHO NARSIS SAAT LEBARAN...

Suatu hari di musim panas tahun 2010 (hayyah... pake musim panas.. :), saat rapat di ruangan bos dengan beberapa juri Duta Wisata 2010, Pak Bos nyeletuk bahwa "masalahnya... orang-orang kita ini banyak yang pemalu untuk ikut kontes-kontes begini" --merefleksi kontes sebelumnya yang miskin peserta. Aku, seperti biasa... suka ga tahan kalo gak nyolot, "hmmm... padahal kita suka pasang poto narsis di FB"... dan langsung disambut salah seorang pemred harian lokal yang juga ketua dewan juri "Iya ya mbak...", hahaha... kita semua lalu tertawa.

Suatu hari pula di tahun 2009, saat sedang diskusi dengan bos juga...yang biasanya juga jadi acara curcol (eh, btw, curcol tuh apaan sih...--:P), saat sedang membahas salah satu media promosi luar ruangan... tiba-tiba teringat dengan salah satu baliho yang suatu sore aku lihat di salah satu pertigaan di Jalan Sudirman Pangkalpinang -- "padahal pemandangannya sudah superb... tapi ditutupi sama figure beberapa petinggi yang di photoshop di depan pemandangan super keren batu granit di salah satu pantai di Bangka belitung" --kan jadi ilang deh kesan "wow" nya... (oke... berganti jadi kesan wow yang lain: wow...yang buat baliho iseng yaa... :P), So, I said: oke..kalau mau ada gambar orangnya, kita kan punya banyak wajah-wajah fotojenik yang sedap diliat lama-lama...yang masih fresh dan muda-muda... yang bisa membuat pemandangan yang wow tadi menjadi tambah super wow.... and... Bos saya yang tadinya semangat diskusi, mulai bete dengan ke-sokteuan- stafnya yang baru beberapa bulan bergabung di kantor nya ini. Deep down inside... saya tau, sebenarnya Bos saya yang - I must admit is a true combination between theory and practice - sangat berhati hati dan workaholic ini setuju dengan saya... (Kalau saya jadi Bos nya Bos saya, saya akan "memelihara" nya dengan baik.. hehehe -- susah soalnya nyari staf yang begini -- makanya, saat ada rolling2an staf kemaren, saya dan beberapa "petinggi keset" 1 bidang lainnya, maunya staf yang dimasukkan ke seksi kita adalah Pak Bos kita... hahaha .. dan tentu saja itu salah satu keajaiban dunia nomor 8 kalo sampai terjadi --*Ampun Bos.... :)

Alasan bahwa baliho dipasang oleh PNS, kan tidak menjadikannya dilihat hanya oleh PNS..(hallooow... berapa sih komparasi PNS yang tinggal di Pangkalpinang dengan penduduk Pangkalpinang yang bukan PNS?).. toch, baliho dipasang bukan buat kampanye pilkada... (*sok culun).Gubernur nya juga bilang (seingat saya beliau pernah bilang begini): gak perlu lah wajah saya yang dipasang... Nah! makanya saya berani komplain sama Bos... :P Wong orang nomor 1 nya aja sudah bilang gitu kok... Nurut aja knapa...wong it's a good thing kok... :)--> jadi teringat dengan wajah masem temen saya yang biasanya disuruh mendesain baliho/spanduk dll kalo sudah mendengar komen saya: bagus.... tapi akan jadi bagus banget kalau gak ada wajah siapa-siapa di situ...

Anyway... poto2 petinggi gak cuma dipasang di baliho, tapi juga di cetak di spanduk, kalender, sticker... adduuuh... emang gak ada orang muda yang ganteng2 dan cantik2 lagi ya di negeri Laskar pelangi ini.... ke-lebay-an ini akhirnya menjadikan kita (kita--means lots of people) berfikir: Orang Babel nih narsis yaaaa.... *so.. jadi bertolak belakang dengan teori pertama: Orang Babel Pemalu..


(Gambar Sholat Ied Tahun 2010 di ATM Pangkalpinang)
So... apa hubungannya dengan Lebaran? Sudah 2 kali lebaran saat sholat Ied di Lapangan Merdeka- yang sekarang ganti nama jadi Alun-Alun Taman Merdeka (ATM -- ingatkan saya untuk menulis uneg2 saya tentang ATM yaaaa...), saya memperhatikan bahwa jamaah sholat Ied ternyata harus sholat menghadap berbagai baliho ucapan Selamat Idul Fitri dari berbagai petinggi pemda (dari Tingkat I dan II -- pas tgl 31 agst kemaren, kebetulan gak ada baliho pemprov) serta petinggi parpol... Pas Idul Fitri kemaren, Thank God, or... sialnya, saya berhasil lolos dari polemik tanggal 1 Syawal karena bulan saya dah keburu datang sebelum lebaran (whatever the date nya...), jadi saya tidak perlu gondok seperti tahun kemaren yang harus sujud di hadapan wajah2 petinggi negeri ini yang tampil di baliho-baliho itu...

Padahal... ketika sholat, kita bersujud di hadapan Tuhan... bukan di depan wajah2 petinggi yang nampang di baliho... (Semoga petinggi itu at least, tidak tahu kalau wajahnya bakal ditampilin di baliho.. kalo sengaja minta dipasang... segera bertobat ajalah Bos....)...

*Pada saat menulis ini, status saya sedang: LIBURAAAAN.....!!! *tidak terafiliasi dengan jabatan dan parpol apapun... truly my honest opinion

zaterdag 16 juli 2011

THE RAIN, THE ROOM, AND WEENAPAD (Part 2: The Room)

Finally, I have the gut to write again...:) Heavy rain, a cup of coffee and a day off perfectly create "the moment"...^,^ It takes a half year to write this chapter.

Now, I'm in my little room at home. This little room is not comparable in size to my room in weenapad, off course… but I have more furniture here..:) and the plus point I never had in Rotterdam, my parents and those little brats are around… Since my only sister got married in February 2003, I occupy this room alone. Before that, it means after I returned from my study at Gadjah Mada in late 1999, I shared this room with her.

I always shared a room in past, at home with my sister, and while I was a student I shared room with my roommates. In Purwokerto, the small town in central Java, I shared room with other 3 girls when I first started my life as a lodger—or anak kost in Indonesian. I remember their names; I was with Ima, Eny and Rita in that big room. They were very diligent students. I and Ima were students at SMA 1, while Eny and Rita were at SMA 2. Our schools were only 3 minute walk from our lodge at lorong Perak. Every night they spent hours to read the text book. Me? I only sat with them when I had some homework to finish or an exam the next morning. If not, I would read something else..:) Rita always brought some novels with her, or some friends at my class lent me some comics or magazine. Sometimes, Rita and Eny would ask me to do things with their homework ( I and Ima were sophomore that time, while Eny and Rita were freshmen). Then, after that, I, Eny and Ima moved to other room for 3 after 2 seniors graduated. Hesty and Siti, Eny’s friends were also diligent students… and I were still the laziest one… :) Even Siti mentioned my lazy habit when I could finally meet her in 2009 in Kuta Bali (the amazing thing about me she could remember hehehe). I just can’t help it… self study bores me too much that I’d rather listen to the lecture in the class than read books home (reading text books is a good prescription for my insomnia..:)

When I was in Jogja, I spent the first year in a 3x3M room, alone…! I felt soooo lonely…, that I always bothered other lodgers by staying at their rooms –at Mbak Ikah’s room or at Mbak naming and Mbak Wiwik’s room. Then I moved to other lodge with Mbak Lulus in Durmo. But Mbak Lulus was already in her thesis writing that time that she left me a lot. The fun thing of having a friend or some friends sharing a room is that you always have company to talk or to do things. For instance, when I had to type my final paper in every semester, Mbak Lulus will accompany me—but she was sleeping… and before sleeping she would tease me by saying “have a nice typing….” And she didn’t mind the sound of the type writer at all… (a computer was luxurious that time). After Mbak Lulus graduated, Lilis became my roommate until the time when the landlord kicked us out since she wanted the house to be rented to a family.

Then I and Lilis split. I moved to Srikaloka, and shared a room with Mbak Naning (we lived at the same lodge previously), substituting Mbak Wiwik who had finished her study. The room was quite big that this room became a guest room for lots of our friends, sometimes there were 4 or more people sleeping in our room. Even a senior of mine, send his friend to sleep in our room since it would be a big case if a girl spent the night at his lodge…. Almost every afternoon Mbak Naning would make some tea, and all the girls at the lodge would gather in this room. Privacy ? I never had problems with privacy that time. So, when Mbak Naning’s friends come, and I wanted to sleep… I would just sleep and they didn’t bother me. After Mbak naming finished her study, Mbak Win- a friend of Mbak Wiwik shared the room with me. Well… my roommates in Jogja, except Lilis who studied archiving, were mostly students of something related to Earth. Mbak Lulus studied at Forestry, Mbak Naning was at geography, Mbak Wiwik, Mbak Win and Mbak Devi (my roommate after Mbak Win graduated) were at Geology. Well, Mbak Lulus dated Mas Giri -- Mbak Win’s friend at Geology. I never had a fight with any of my roommate… I think I was so lucky to have roommates like them.

After that, I always rent a room for myself. In Jogja, when I was at my master study in 2006-2007, I rent a small room, with a bathroom inside. Then, I also had my own room in Weenapad. Do I need more privacy now? Or I become more selfish? Well, maybe I am always a selfish person, it’s just that time I never had a chance to be as selfish as I am now… hahaha… I could pay a room for myself that time. It was totally different. Off course lots of students when I was at my undergraduate could pay a room for themselves, but I thought it was too selfish for me to do that with my parents’ money.


Since my sister got married, I always have a room for myself. This room is maybe a place where I spend the night alone –or a place where my Mom would watch TV accompanying me… well she technically occupied the TV to watch that bloody lame sinetron while I was in front of my notebook, but in the day… this room is a playground for my nephew and niece. They always have things to do in my room, whether it’s just to watch TV, or they do something more challenging like jumping on my bed, or investigating my drawer… So, now… since my sister is moving to Bekasi following her husband who is transferred to the headquarter, I’m going to miss those little brats a lot… Now, finding my room is just the same as I left it before work will be a very sad thing…

zondag 29 mei 2011

I should have done something else, but...

Every time I have to deliver my car to the garage, i feel like crazy...I don't know why. Going to garage to make sure my car is alright, it just doesn't feel like something fun for me..( I think, this kind of thing is so male- gendered task..^_^! But, I can't avoid doing that anyway...) I rarely drive my car, and for almost 18 months, i have only used that for less than 10.000 km... last time, when it was in 8000 km, the girl in the garage forced me to change the engine oil and i insisted to wait until it is 10.000 km..:) Anyway...sometimes, I wonder why i need a car and join in the groups of lazy people contributing to traffic jams and pollution... but to think i should bike for 8 km every morning to the office and 8 km back in the afternoon, with the risk of being hit by cars or motorcycles always calm me down from my passion to ride my bike as if it were as comfortable as riding bike in Rotterdam... in my dream...

I should have written part 2 of my previous post, but... I haven't got any idea. My brain hasn't functioned normally lately..(and like almost most of my time...--I must admit). Nevertheless... after reading one of my friend's blog and experiencing almost the similar thing, I can't help feeling the same way...

I never counted how many times people have asked my "BB Pin". I can't help my self feeling fed up with this gadget. First, it was simply because I hate using things that most people use especially when they use it just for fashion. Second, I have seen many people who have this gadget but can not maximize the function, and only created problems to others (don't want to explain it here, it's so troublesome and may offend lots of people). The third is because so many people think that I have this gadget while thinking that i'm fond of it... Well.. I don't have it and I'm not fond of it..OK!

So, when someone asked my BB Pin, my response would be like:
- What BB? Berat Badan? (Body weight?), or bau Badan? (Body Odor)... That... I do have
- What Pin? Hair pin? Clothes pin? my ATM pin?
-- BBM? Which one? Solar, bensin, pertamax?

Some people would insist that I have a blackberry...and force me so hard to give them the Pin... This thing is so... annoying...really-really piss me off. I don't even like to sms or answer my phone calls , let alone chat with a blackberry... Can I just live in peace without those annoying gadgets? ( i wish I don't need a mobile phone either...).
(For my friends, I'm so sorry that most of the time i don't pick up my phone, It's not that I hate you, but most of the time it was because i left my phone somewhere away from me --inside my bag and i forget to turn on the ringtone or i left it in my car and I didn't remember it since i didn't feel like missing it --, and sometimes because I just feel that i want to be alone)

_ Me, feel so bored...

As posted in my blog: http://rueznychuantix.blogspot.com/

zaterdag 18 december 2010

THE RAIN, THE DESK, THE ROOM AND WEENAPAD (Part 1; the Rain)

It’s really-really the water pouring down the earth, not the famous charming Korean singer who likes to sing topless showing his six packs, which always makes me think about the soapy washing board that mothers in the villages like to use when they wash clothes in the river. It’s just rain, hujan. And rain always makes me feel this kind of unsubscribed comfortable warm feeling... off course when I don’t feel like to sleep, or cannot fall asleep like several years back when I was still a student. So, after a good night sleep that need really great effort to collect all my willingness to get up, after a quick glance at Patsy Healy’s planning process, with a cup of cold coffee my mom has made since early this morning ...hey, it’s Saturday..., and after a bowl of hot instant noodle for breakfast..(so.. perfect), I suddenly feel like to write my blog again.

It ‘s such a heavy rain this morning. Hujan lebat sekali pagi ini. Anginnya juga bertiup keras, sampai pohon-pohon yang terlihat dari seberang kamarku rasanya mau roboh. Apalagi pohon pisang kepok kurus tetangga depan tapi tandan buahnya besar-besar dan sudah hampir siap dipanen itu, seperti sudah tidak sanggup menahan beban. Udara sangat-sangat dingin sampai-sampai aku harus mencari sleeper hijau ku yang bertahun2 jarang aku pakai. Hujan lebat memang bikin saya jadi suka merasa sentimentil, hehehe.
Sudah lama sekali tidak pernah memperhatikan hujan di pagi hari, maksudnya really-really watch the sky and the rain. Bukannya tidak pernah lagi mengalami hujan, tapi karena memang tidak pernah berkesempatan menikmatinya... cie... bukannya tiba-tiba jadi sok sentimental teringat lagunya om2 ganteng di A-ha yg bilang, “work crushed me...”, tapi memang hujan sebenernya selalu makes me feel romantic, hehhee.... duduk nyaman di depan komputer, belum mandi, dibalut selimut, kaki beralas sleeper, suara hujan dan angin di luar, angin masuk meniup tirai dari jendela... can’t help me remembering my lazy old days... (Theme song paling pas nih, pake lagunya S.E.N.S. remembering...hehehe). kalo mo denger, ini link nya: http://www.youtube.com/watch?v=iEk0jQI8tGM

When I was a child, I always loved the rain for so many reasons. When it was heavy rain in the morning, it meant that my dad would deliver me and my sister to our school in the neighborhood we usually went there on foot. My dad would ride the motorcycle with a big raincoat, where I and my sister could also hide from the rain –in which I actually didn’t mind to have some splash. It was comfortable hiding under my Dad’s raincoat while I couldn’t recognize the road we usually passed to school , and I usually sat in front of my dad –things I could no more enjoy when I grew up, and can only envy my little nieces and nephews when they ride motorcycle with my dad, hehe . I and my sister usually kept our shoes and socks in plastic bags to keep it dry. When it was raining after school, it could only mean...yaaayyyy... it was the time to play with the rain. And I also like the weather after rain. It’s the time to launch our paper boats through the ditch...:) Or, the time when I would make a tiny garden with the creek on the ditch in front of my house... Ah.. it was lovely

When we were at home, and it was raining very hard, and I couldn’t play outside, my mom would make a big cup of hot coffee to enjoy together (so... I was educated to love coffee since I was little, that’s to answer the questions of how a sweet girl like me can enjoy coffee as much as enjoying plain water :). Sometimes, my Mom would also fry cassava or banana, to accompany that coffee... which then I realize, this ordinary thing is a luxury for other children whose parents were too busy to spend the time with them.

In Rotterdam, the city of rain and wind, where I hardly saw blue sky and the sun, I still could enjoy the rain. Despite the 30ies km wind that could throw those big Dutch students riding the bike, or the unseen wall suddenly created in front of me when I rode my bike, I could still feel the unsubscribed warm feeling when it’s rain. I remember when it was my August colloquium in 2008...

I just finished my power point presentation in the morning, after a night without sleep working on my thesis presentation, as the ordinary modus of a deadliner like me usually have. After everything I could do in short time before 9.00 in the morning, I went down to go to the campus by my faithful old purple bike. The wind was quite heavy, but it was only a light rain when I was leaving my room. But, the weather was suddenly rough when I open the front door of weenapad, and I counted the time I need before I got really late for the presentation and decided... well... OK... bring it on... And, luckily... or unfortunately for him, our class representative just had the same situation.. so, we raced to the campus in heavy rain, and he could have a chance to complain near the stadhouse halte “why it should rain at the time like this...!”, and I could only answer ‘well, think positively that rain for Muslims --he is an egyptian—that rain is a bless for the whole world, so we could consider this rain as a good sign for our colloquium... hahahaha”, well, he didn’t laugh...:) but we arrived at the campus 20 minutes then, in wet clothes. Well, he was completely wet, while, I was lucky for wearing my raincoat...:) even though I couldn’t keep my shoes and jeans dry.

Here, I never watch the rain at night from my window, because I don’t have glass windows in my room. They were wooden windows. But the most important reason is because I prefer sleeping ...:). In weenapad, despite the lame view you could only see was the glass building of the ING bank and the railways and the platforms of Rotterdam central station, when I usually stayed awake until late—or morning-- as if doing something with my assignments, I liked to watch the rain or snow, from my room at night. It was incredibly beautiful view of the lines the rain drew when it passed around the lamp posts. Once in a while, I watched the railway maintenance around 2 or 3 in the morning when the officers and the workers were busy working to make sure the railway is well maintained and save for the heavy traffics in the day.
Rain...is usually a description in the movies, or photographs showing a romantic scene, a happy or sad one. The gray cloud, for me, can slow the time so that I can inhale the air in devotion. Is it true Work –not earth-- has crushed me? And the streets hushed me for years. And wherever I go, when it rains, I always remember the time when my Mom made a big cup of hot coffee for the whole fam to enjoy... and I would feel the love and home again.

dinsdag 3 november 2009

BUMI LASKAR PELANGI

Barusan YM-an sama seniorku satu sekolah di Yogya n di IHS, and dia (sebagaimana seharusnya senior yang baik...),mengingatkanku kalo aku dah hampir setahun ga ngeblog disini...hehehe.... Yah...sebenernya bukan ga nulis sama sekali sih....cuma kayaknya basi geto lo kalo harus posting 1 tulisan di 2 tempat. Anyway... berhubung sudah didesak desak begitu..., dan senior ku ini cenderung suka menghasilkan kata2 yang bertuah...jadi aku patuhi saja.... Tapi......... ada tapinya.... yang diposting disini sebenernya udah pernah diposting jugaaaa di FB..hihihihi... So... tulisan pertama yang aku copy paste adalah tentang kisahku jalan2 di Belitung pas Agustus kemaren... Semoga bisa menjadi start yang bagus untuk menghidupkan kembali blog ini... :)... SATU...DUA... TIGA....MULAI!!!

Kita mulai dengan poto pemandangan bidadari cuci kaki di tanjung Tinggi dulu....

Gara-gara tulisan yessi tentang liburannya dengan bule belanda di padang, dan gara2 seharian ga ngapa2in (sbenernya dah niat mau ngerjain kerjaan kantor di rumah --weitz...ketahuan ga masuk kerja ... Maaf sodara2...hari ini saya terpaksa ga masuk kantor, kena flu... and badan terasa berat...[wes wayahe nek kegendutan, hehehe], tapi apa boleh buat, listrik mati dari pagi sampe sore...), plus cletukan Zulfi, temen sekelas 1 SMA, yg nyuruh aku menulis script film ...(maksude opo tho Zul... wong aku nggawe skripsi we butuh waktu 1 setengah taun dengan hasil yang tidak menngembirakan... opo maneh di kon nggawe skrip pilem... emangnya gue apaaaaan lageee... Mira lesmana?... hihihi)... So... here i am, ga bisa tidur karena kebanyakan tidur siang.... Bagi yang ga ada kerjaan, silahkan lanjut membaca uneg2 ku ini...

Ditendang dari Bappeda sehabis pulang dari sekolah, terjerembab di bidang promosi Dinas Pariwisata... Pasti anugrah tersendiri buatku, selain karena kesadaran kalo ilmu perencanaan yg hampir 3 tahun ku selesaikan dengan terengah engah itu masih jauh dari harapan bangsa dan negara serta para sponsor beasiswa yg khilaf itu, masuk ke dinas baru, dengan bidang baru, memberikan alasan legitimate buat ngeles dan mendapat permakluman dari semua orang dengan kelemotan dan ketidakberesanku sebagai pegawai negri ---ya...maklum lah...ini kan bidang baru buat dia... ya...kasih waktulah buat adaptasi...ya....kan selama ini dia cuma staff rendahan(walau keadaan sekarang juga kurang lebih masih sama aja, hehe) , hihihi.... (Beginilah sodara-sodara, hasil kekhilafan sponsor beasiswa ngasih award ke pegawai lemot yg niat awalnya sekolah nyari sabbatical leave dari kerumitan kantor...hahahaha)

Kembali ke laptop....
So, minggu lalu, aku mendapat award dari bos ku yang juga khilaf menjadikanku asisten sorot... (soalnya beliau aja sebenernya ga perlu asrot, hehehe... tapi beliau memang perlu asisten untuk menghadapi laptopnya yg mulai bawel... so... siapa sih yg punya pengalaman lebih canggih dari menghadapi laptop yg bandel daripada aku di kantor kami...--BANYAK...hahahahahaha...-). Apa istimewanya jadi asrot....? istimewa karena kali ini harus dikerjakan di belitung... Belitung geto lo sodara-sodara... tempat Lahirnya laskar pelangi yang phenomenal itu..... And sudah 4 tahun aku ga menginjakkan kaki di bumi bali Kepotong itu... So, walaupun rada ga sanggup membayangkan perjalanan dihempas ombak selama 4 jam.... dan bermalam di wisma tua bougenville yang penuh dengan cermis (cerita mistery)... akhirnya berangkatlah aku dengan gagah berani sambil menyeret salah satu staff di kantor untuk dijadikan tukang poto, menyusul pak Bos yg sehari sebelumnya sudah duluan kesana pake pesawat....

Setelah sempet dikerjain staf baru yg kuseret ke sana ini (bayangin....kapal berangkat jam 13.30 dia bilang jam 12.30!...penyimpangan besar dari kelaziman yg sudah-sudah...n begonya kok aku percaya yaaaa?) sampai ga sempet makan siang.... setelah sedikit tragedy double seat yg justru membuahkan hasil kita malah di kasih seat yg lebih nyaman, hehehe.... Akhirnya, sampai juga kami sore itu di tanjung pandan... ga ada acara mabuk laut...surprise.... (Lah...wong naik mobil bos dari kantor ke bapeda kota aja aku mabok...). Setelah ngojek ga sampe 5 menit (tapi kudu bayar 10.000 ... tarif pelabuhan Man...), sampailah kami di Wisma Bougenville di Tanjung pendam, yang dah dibangun dari jaman Belanda dulu....

Tak lama setelah kami tiba, Pak Bos pun tiba di wisma juga sambil manyun...soalnya beliau menjemput kami di Pelabuhan...Tapi gara2 ga nyangka bakal dijemput si Bos langsung... kami dengan pede langsung menghampiri Bapak2 Tukang Ojek yang memang banyak mangkal di Pelabuhan jam segitu. OK, in short, saya bergabung dengan seorang pegawai cewek dari Disperindag di kamar 10 --mereka lagi dinas tera timbangan selama setengah bulan--, dan pak Bos sekamar dengan rafiq (tukang poto kita) di kamar 5...(Alhamdulillah...ga sendirian di kamar...)

Habis magrib, langsung jalan-jalan nyari makan...(ditemenin Pegawai Biro Umum yg nyambi usaha rental mobil..), weitz...jangan senang dulu.... Selama perjalanan nyari makan tetep harus waspada memperhatikan kira-kira apa yang salah kalo ada wisatawan jalan-jalan di situ... Motret2 dan ketemu bencong-bencong... Akhirnya kami having our meal ala candle light dinner di bistro cafee Tanjung pendam ditemenin musik yang asyik-asyik sih... (Tapi... meski sebenernya suasananya romantis...seperti kasus waktu dulu jalan-jalan di paris --- suasana romantis itu ga bisa di hayati kalo jalannya sama orang-orang yang salah...hahahaha...). Ketemu sama crew Sang Pemimpi di sana yang langsung mengenali pak bos...(nasib...punya bos seleb...), dan dapet bocoran kalo besok pagi ada shooting Sang pemimpi di tanjung Tinggi..."Kita di jengukin ya pak..." undang si mbak crew ke pak Bos...yang langsung ditangkap dengan binara-binar bahagia rafiq...(gue juga...). Pulang ke wisma... weits...ga bisa tidur langsung... harus memaparkan bahan paparan Pak Bos besok...yang berakhir dengan...memperbaiki paparan itu...gara-gara laptopnya merusak file paparannya.. hallah.... Anyway, jam 12 kami (aku n rafiq aja...Pak bos dah teler duluan...) bisa teler di kamar masing-masing...


Pagi-pagi jam 5, sudah mandi dan siap dengan persenjataan untuk berburu 'Sang Pemimpi", berangkatlah kami bertiga ke tanjung tinggi di sopiri pak Bos yang "agak lebih mengenal" jalan jalan di Belitung daripada kami. setelah bolak-balik mencari2 dengan putus asa... akhirnya kami balik ke kota dengan perasaan kecewa...huuuu...salah tempet kali yaaa.... Sampai kemudian ada kijang perak melaju ke arah tanjung Tinggi... Naaah... itu mereka... So, begitulah...kami ke sana, potrat potret...Pak Yan ngobrol sama Riri reza, aku poto bareng Mbak Mira lesmana...bla, bla, bla... akhirnya kami (karena ga bisa ikutan sehubungan dengan jadwal show kami jam 9 pagi hari itu) melanjutkan perjalanan balik ke kota, setelah sempet mampir di tanjung kelayang, sarapan pagi dengan mi goreng telor mata sapi. Jam 8.10, kami cabut kembali...(si bos belon mandi euy...padahal show nya jam 9), dan dengan kecepatan yang mengesankan...(maksud gue...si bos mandinya cepet euy...curiga, jangan2 cuma mandi close up), akhirnya jam 8.58 kami sampai di tempat show dengan selamat. Nyiap2in laptop...Pak bos paparan...laptopnya ngaco ditengah paparan....paparan selesai, ditemenin pegawai Budpar Kab belitung nganter Pak Bos ke bandara jam 11...(eh...ternyata dah sampe sana pesawatnya delay...hhahahaha), balik ke tempat show lagi, nganterin pegawai budparporanya...And...jeng jeng jeng.... Tinggal aku dan rafiq dan sebuah Avanza tanpa sopir... Nah loooo.... gimana caranya balik ke Wisma?


Akhirnya, pada hari itu, aku terpaksa menyopiri mobil ke-3 dalam hidupku....(yang pertama Forsa tua versi 86 yang dah bikin empet mata semua orang di kantor --weits... sodara2...forsa ku itu telah berjasa kepada bangsa dan negara bolak-balik... ditambah pernah jadi kendaraan mantenan 2 kali booo--, kedua Toyota Yaris otomatis (otomatis gitu looo....hahaha...yg biasa pake transmisi manual...) sewaktu dengan terpaksa harus jadi sopir bibi n sepupuku yg dua-duanya ga bisa nyopir pulang waktu Pamanku minta anterin ke pelabuhan... dan ketiga... ya...ini... Avanza rentalan yang harus bisa nyampe wisma segera karena ada jadwal pemotretan di belitung Timur dan sopir merangkap guide kami bakal ketemuan disana. Dengan modal nekat dan kemampuan telepati rafiq yang meragukan...akhirnya kami bisa sampai di wisma tanpa tersesat.... dan selanjutnya... kami bisa melanjutkan acara pemotretan di Belitung Timur tanpa kendala berarti...kecuali waktu yang mepet....

Tantangan sesungguhnya adalah di hari berikutnya...
Pagi-pagi...tukang poto kami sudah memulai harinya (yang dimulai tepatnya pada pukul 00.00) dengan mood yang tidak terlalu menggembirakan... Ternyata teman tidurnya tadi malam, atau tepatnya tadi pagi, tidak terlalu kooperative, karena mengajak bermain-main dengan bantal...hehehe... Anyway... rencananya hari itu, kami akan ditemani oleh temanyang dah mulai rada sehat setelah cuti sakit gara-gara tiphus dan infeksi saluran pernapasan. Tapi karena ybs harus check up lagi, jadi kami berdua melanjutkan acara pemotretan, dengan berjalan kaki.

Sumprit...aku langsung terkenang-kenang dengan perjalanan sebagai turis kere sewaktu sabbatical leave ku gara-gara sponsor khilaf yang kasih beasiswa setahun di Negrinya Om Multatuli dan sewaktu JICA khilaf ngasih award jalan2 ke Jepang 3 minggu. Disana, yang namanya penunjuk jalan, kios informasi, apalagi peta gratis bisa didapatkan dengan mudah... Kalau mau jalan ke suatu tempat, biasanya sebelum berangkat kita riset cepat di internet, liat google earth, browsing wikipedia, masuk ke web terkait untuk mencari atau mendownload informasi baik berupa peta, transportasi di sana maupun tempat-tempat yang harus dikunjungi. Begitu jalan, kita sudah ga bingung lagi mau kemana aja. kalaupun ga sempet riset, selalu ada peta (baik di toko yg beli, atau diberikan grais di stasiun kereta atau bis, atau yang dipasang dipinggir-pinggir jalan). So...ga usah khawatir tersesat... (meskipun 2 kali jalan bareng Yessi selalu berujung tersesat.... yang Pertama, di Nijmegen, gara-gara petanya gak dibaca...hahaha...dasar geblek... Yang kedua pas di Antwerp, gara-gara petanya diilangin sama Yessi... Pokoknya kesalahan terletak pada yessi...karena aku yang sudah terkenal bolot baca peta (bisa, tapi lama ngertinya) telah menyerahkan jiwaku padanya buat dibimbing selama jalan-jalan..hallah...).

So, berjalan-jalan di kota yang ga sepersepuluhnya ku kenal tanpa peta, ibarat mencari jerami ditumpukan jarum...:) hasilnya pun terbukti... museum yang letaknya deket dengan wisma pun kami lewati... untunglah masih ada Pak polisi... hehehe.... Setelah pegel2 dan berkeringat (ini lagi... jalan2 disini pas musim kemarau kayak gini...dipastikan bikin dehidrasinya cepet), dan meskipun dah dilengkapi kaca muka, tetep aja panasnya ga ketulungan... Akhirnya, sampailah kami di musium. Afterward, kami mencari2 temen yg lagi check-up di RS di depan museum, dengan hasil...ga ketemu.... (Salah satu tempat yang bikin aku ga nyaman, selain karena isinya orang sakit melulu, juga karena komplikasi ruangan yang tinnggi, adalah rumah sakit...). So, kami menyerah... Andalannya tinggal Tukang ojek...(meskipun sewa motor juga ada...tapi percuma juga kalo dua-duanya bego ga tau arah...). So... meluncurlah kami ke Rumah Adat Belitung di dekat perkantoran pemda. Poto2... nongkrong bentar... jalan bentar, celingak celinguk cari ojek...dan...ngojek lagi balik ke wisma, karena janjian ketemu temen habis jum'atan.

Well...intinya... susyeh bangeeet mau nuris dengan modal kaki kalo ga ada petanya....belon lagi pedestrian yang kadang ada kadang enggak, kalo pun ada, kalo ga harus rebutan dengan PKL ya harus naik turun tiap kali nglewatin area jembatan rumah-rumah...( jadi capek naik turun trotoirnya...masih untung bisa jalan, kalo penyandang cacat yang harus dibantu kruk atau kursi roda...pasti lebih capek lagi). Anyway... Pantai di Belitung memang bagai mimpi...indaaaaaaaaaaaaaaaaaah...banget... apalagi cuma dibandingin sama laut di belanda...lewaaaaat....
Wes, dah 4 halaman... Cabut dulu... dah ngantuk....

dinsdag 20 januari 2009

Today


Hari ini...ato kemaren ya? Soalnya ini sudah mau jam 1 pagi..., habis ambil tiket buat ke Jogja, aku meluncur ke polres, buat ngambil STNK mobil yg minggu lalu bayar pajak...( Ampun deh bulan ini, habis2an...bayar pajak, ke jogja... Tobaaatttt...). Sampai di sana, aku langsung menuju tempat pengambilan stnk... celinguk sana, celinguk sini...garuk2 kepala..., akhirnya ku putuskan berdiri sebentar nungguin mas nya yg lagi sibuk cari2 berkas, maksudnya, mau nanyain... prosedur yg baik buat ngambil stnk gimana... eh... ga nyampe seperseribu detik... tiba2 banyak orang yg berdiri berkerubutan di depan loket itu... weitz.... What happen ya?

Ternyata mereka adalah orang2 yg juga berniat sama dgn ku, mau ambil stnk. Sebelum aku tiba, ada sekitar 3 orang di depan loket itu, jadi diriku mencoba ngantri (meskipun ga jelas garis dan model antriannya gimana, dan dalam hati udah was was...kayaknya aku yg ga ahli nyerobot bakal mati keracunan asap rokok bapak2 yg ada di depan loket itu... deh, sebelum bisa ambil stnk ku).

Daaaan... seperti yg sudah di duga dan dikira... diriku akhirnya terjepit diantara bapak2 dan ibu2 yg dah ga sabaran.... Sabar...sabar Rusni... Ini Indonesia....bukan di Belanda lagi... Ga tau deh berapa lama, akhirnya orang2 yg disekitar aku itu mulai pada menggerutu juga... "Ini gimana sih pelayanannya... kita2 ini udah bayar pajak...tapi masih juga disusahin ... kenapa sih cuma 1 orang g diloket... harusnya ada 2.., bla, bla,bla...". Hayyyaaah.... meskipun aku hampir setuju dgn para Bapak2 ini, tak urung aku tetep bete.... beteeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee banget. Nih orang2 sok taat membayar pajak, tapi ngantri aja, susah bener.......... Belum lagi ada ibu2 yg masuk lewat belakang, bongkar2 berkas sendiri (kayaknya nih ibu, seperti istilah umum, "orang dalem"), trus ad 2 orang bapak2 yg berdiri di pintu belakang loket yg dah jelas2 ditulisin "Dilarang masuk kecuali petugas...".

So... akhirnya, aku letakkan surat pengambilan stnk di depan loket (gak jadi nanya), dan dengan was2 mengamati kalo2 kertasnya ilang... (pernah kejadian soalnya, kira2 2 tahun lalu, BPKB ku malah yg lenyap di sana...maksudnya ketelingsut...). Semenit, dua menit, sepuluh menit yg rasanya berjam2... tidak ada tanda2 kertas ku di turunin, sementara asap rokok makin bikin pusing, dan dikerumunan bapak2...ih...sebel.... (kalo cowok2 ganteng aja gua masih bete, apalagi bapak2...), Akhirnya.... Eng ing eng...

Aku putus asa...mengharapkan para pembayar pajak ini mau duduk di kursi yg dah disediakan, dan tanda2 kertas bukti pembayaran itu bakal ketelingsut lagi.... Aku menuju kaca ruangan sebelah, dimana banyak PNS (yah, gua juga PNS..meski lagi tugas belajar), yg juga sebenernya sibuk. "Mbak, mbak..." sapaku manis ke mbak2 yg terdekat..."mau tanya..., ini kalo mau ngambil STNK ngantrinya gimana sih?". Si Mbak, bingung... n sebelum dia sempat jawab, diriku yg emang ga sabaran ini mulai nyerocos dgn saranku yg pada intinya...minta tolong......supaya di situ dikasih tulisan ato apa kek, supaya para pembayar pajak yg mau ambil stnk ini bisa tertib ngantri dgn sopan dan baik. Eh....Si Mbak malah menyuruh aku supaya ngomong sama kepala nya aja di ruang sebelah... Yo wes, aku langsung ketok2 pintu yg diatasnya ada tulisan: kalo ga salah nih: KASI STNK/BPKB, trus ada nama Iptu X (lali...hehehe).

Setelah 3 kali ngetok ga dibuka, akhirnya, (mungkin karena gedokan ku yg terakhir sudah pada taraf: Ganggu banget!), seorang ibu2 membuka pintu. Ada sekitar 4 orang di dalam. N setelah menyampaikan salam dan minta maaf... diriku mulai nyerocos ke si ibu masalah antrian... eh... sama si ibu, aku langsung dipersilahkan ngomel ke kepalanya aja... yg sebenarnya ada disitu juga, sedang duduk di balik meja.... And... Maju tak gentar deh... aku melanjutkan cerocosanku ke Bapak polisi berseragam itu, yang untungnya.... tetep rilex... (tapi malah bikin bete....).

Komen si Bapak nih setelah aku dgn "maksa" memberi "saran" agar dibuat sistem antrian ... "Ya... soalnya kan ada juga yg disini datang berkasnya gak lengkap mbak..." (gue: dalam hati... EGP, apa urusannya berkas ga lengkap dgn ngantri...), so, dgn menhan diri supaya ga teriak..."Iya Pak, tapi kan tetep aja bisa dibuat sistem antrian supaya gak ganggu gitu, kan kasian juga sama petugasnya yg jadi panik, belum lagi asap rokok yg ganggu terutama buat ibu2 dan anak2 yg ada di situ (FYI, pada saat itu, aku mencatat setidaknya ada 2 anak yg ikutan ortunya berjubel2an)...blah blah blah... (ya...pokoknya, aku ga bisa menahan kejudesanku deh....)". Si Bapak Iptu dgn sabar dan rilex, sambil berjalan ke luar (so...aku juga melanjutkan "ceramahku" di depan gerombolan di depan loket)"masalhnya kan disini bukan bank mbak...' Gubrak... aku yg ga siap dgn komen si Bapak... jadi speechless.... Bujubuneng... apa antri itu cuma ada di bank? Astaga...astaga....
Anyway, si Bapak akhirnya berhasil menertibkan kerumunan di depan loket, menutup pintu belakang, mengancam yg mau lewat pintu belakang agar tidak dilayani, dan memanggil 1 lagi staff untuk membantu mas di belakang loket yg kewalahan dan wajahnya sudah ketekak tekuk jadi jelek...(padahal aslinya mas nya lumayan ganteng...).

So, in short, aku berhasil mendapatkan STNK ku dalam waktu sekitar 10 menitan... Meskipun, setelah si Bapak pergi, para pembayar pajak yg baru datang, n ga ngeh dgn kejadian sebelumnya, masih berdiri di depan loket... Ampun deh.
Semoga si Bapak Iptu segera membuat sistem antri yg baik, dan menempelkan informasi yg jelas di dekat loket supaya orang2 ga pada katrok berkerumun di depan loket lagi.

zaterdag 25 oktober 2008

Back Home

Here I am, at home at last, leaving Rotterdam and the beautiful people I knew there. Off course I have to leave lots lots of the comfortable facilities and infrastructures there, like...unlimited fast internet connection, the drinkable tap water, the bicycle track, the comfortable train, the tram, etc etc. And off course...my Mas Ganteng. I also left the autumn, I didn't have the chance to see the leaves yellowing. Summer was long...

Nonetheless, i meet my beloved parents again and my brothers and sister and my nieces n nephews. It's mix feeling I feel inside.